:)
Selamat Membaca...Semoga Bermanfaat.
Etika Bisnis Islam, Kajian Ekonomi Islam

Kebahagiaan “Cinta Dunia” dan “punya Dunia” dalam persepektif Ekonomi Islam


By: Anas Malik Al-Kaliandawi

 

Ada peribahasa yang mengatakan “ Hidup tanpa harta, terasa hidup tanpa nyawa”… entah siapa yang orang pertama kali mengkonsep kata-kata mengenai hal itu. Seolah-olah harta merupakan urat nadi manusia untuk kelangsungan hidupnya. Tetapi bagi kita hal ini tidak bisa dipungkiri. Sebab ini merupakan sebuah fitrah manusia yang keinginannya tak akan tercukupi atas capaian usaha untuk memperoleh kebahagiaan di dunia. Tetapi akan menjadi bukan sebuah fitrah manusia jika sudah melebihi ambang batas kewajaran sebagai manusia berakal. Maka dari itu Al-qur’an diturunkan untuk menjadikan aturan-aturan antara kewajaran dan ketidakwajaran, kebaikan dan keburukan, semakin di pertegas dan untuk di pahami oleh umat manusia. Maka semua perkara yang menyangkut kehidupan manusia akan semakin jelas (tidak rancu). Mana yang diperintahkan oleh tuhanya atau yang mana yang harus ditinggalkan. Tidak ada aturan dari Allah SWT yang melanggar kodrat manusia itu sendiri. Karena Allah SWT mengetaui atas diri kita apa yang kita tidak ketahui. Termasuk harta yang kita memiliki. 

Seringkali manusia terjebak dengan perkara ini, yang beranggapan kehidupan dunia akan bahagia jika kita mempunyai harta yang melimpah. Padahal Allah menempatkan kebahagian hanya dalam perintahnya dan laranganya.

وَبَشِّرِ الَّذِين آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُواْ مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍ رِّزْقاً قَالُواْ هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِن قَبْلُ وَأُتُواْ بِهِ مُتَشَابِهاً وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

[Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang beriman dan beramal sholeh, bahwa bagi mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Setiap kali mereka diberi rezeki dari buah-buahan di dalamnya, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu (di dunia).” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan baginya di dalamnya ada pasangan yang suci, serta mereka kekal di dalamnya.]( Al-Baqarah 25)

ayat dia atas semakin jelas, bahwasanya kebahagiaan yang hakiki adalah menjalankan perintah Allah SWT, dan suatu kepastian bagi kita semua, bukan harta benda yang kita miliki. Seandainya letak kebahagiaan terdapat dalam harta dunia maka manusia akan semakin serakah, yaitu memperoleh dengan cara-cara yang haram, batasan-batasan agama tidak berlaku lagi. Tetapi Allah maha adil, kebahagiaan dapat dinikmati oleh siapa pun tidak memandang derajat kedudukan di dunia. Tetapi allah membuat tolak ukur melalui perintah serta larangannya untuk mensikapi seluruh perkara dunia. Jangan sampai terjebak dalam tipu daya setan. Yang biasanya menjadi penyakit umat sekarang yaitu harta dunia.

Lalu pertanyaanya, apakah umat Islam tidak boleh memiliki harta atau menjadi orang kaya..? maka saya pastikan bahwa Islam menyuruh kepada umatnya untuk menjadi orang kaya. Menurut Ippo Santoso dalam bukunya yang fenomenal “Percepatan Rezeki dalam 40 hari dengan otak kanan” ia mengatakan “Allah SWT sangat menganjurkan dan mengajarkan hambanya untuk untuk kaya. Buktinya tertulis melalui ayat-ayat, diriwayatkan dalam hadits dan dicontohkan langsung melalui Nabi. Terlebih-lebih lagi sampai detik ini tidak menemukan satupun ayat dan hadits yang menganjurkan dan mengajarkan untuk miskin, yang ada hanyalah ayat dan hadits tentang menyikapi kemiskinan. kekayaan bukanlah tujuan melainkan alat. Yang dengan alat ini, kita akan lebih mudah dalam berzakat dan bersedekah, berhaji dan berumrah, menuntut ilmu, menafkahi keluarga, menegakan ekonomi syariah, membangun sarana umat, meningkatkan begaining position umat, dakwah dan syiar, dan lain sebagainya.”maka menjadi orang kaya dalam islam merupakan sebuah perkara yang bernilai ibadah.

maka ada seorang filosofis yang mengatakan “ jika Anda terlahir dalam keadaan miskin itu bukan salah anda, tetapi kalau anda mati dalam keadaan miskin itu salaah anda.” begitulah islam mengajarkan kepada kita tentang pencapaiaan dalam mencari kebahagiaan. baik terkait dengan kehidupan dunia maupun akherat.

Lalu yang menjadi pikiran kita saat ini adalah bagaimana seorang muslim memposisikan atas hartanya di dunia..:? Islam mengajarkan kepada umat manusia untuk mewanti-wanti terhadap perkara dunia yang menyesatkan. Jangan sampai umat Islam terjatuh terhadap rasa “cinta dunia’ yang membuat umat semakin jauh dari Allah SWT. Yang diperbolehkan dalam islam hanyalah “punya dunia”. Saya akan menjawab dengan mengilustrasikan kisah nyata dibawah ini.

Ada sebuah kasus dalam kehidupan sehari-hari yang sering kita temui di lapangan. Saya contohkan dalam kasus yg terjadi di pusat keramaian kota metro di tempat tinggal saya. Tepatnya di Masjid dan taman kota metro. Ketika kumandang adzan di suarakan… Allahuakbar..Allahuakbarr… maka ada seorang pengendara mobil BMW 335i langsung memutar arah menuju masjid Taqwa Metro untuk memenuhi panggilan Tuhanya. Sedangkan dilain tempat, ada seorang tukang becak yang sedang sibuk mangkal tepat di depan masjid yang steam by setiap hari..menawarkan jasanya kepada orang lain, bu becak,…bebas polusi. Ramah lingkungan..celetuk dari penari pedal. Diantara 2 orang tersebut (tukang becak dan pengendara BMW) mana yang cinta dunia dan punya dunia..?

Inilah yang ilustrasi antara cinta dunia dan punya dunia. Untuk pengendara mobil mewah dia hanya “punya dunia” . Allah SWT memberikan kelebihan harta kepada Pengendara mobil. Tetapi dia tidak merasa memiliki seutuhnya. Harta yang Allah titipkan kepada dia tidak membuat lupa atas kewajibannya terhadap Tuhanya yaitu menjalankan perintahnya. Sebagaimana saya singgung di awal puncak dari kebagiaan adalah menjalankan perintahnya. Ketika dia mendengarkan seruan tuhanya maka hatinya akan memenuhi panggilan tersebut. Seandainya jika pengendara tersebut tetap melaju dengan mobil mewahnya, maka hatinya akan selalu gelisah tidak merasakan bahagia walaupun dia berada di mobil mewah. Sebelum ia menjalankan perintah Allah SWT. Oleh karena itu, Kapan pun harta atau kebahagiaan dunia tersebut diambil oleh yang maha pemilik, maka dia akan selalu dalam kondisi siap untuk menerimanya. pengendara mobil tersebut mengetahui bahwa kebahagiaan yang hakiki yang sesungguhnya adalah akherat. Ia tidak terpancing terhadap perkara dunia.

Lain halnya dengan tukang becak “cinta Dunia”. Allah memberikan sedikit harta di dunia untuk tukang becak, tetapi orang tersebut lebih mencintai dunianya dari pada penciptanya. Oleh karena itu dia sudah di perbudak oleh perkara dunia. Maka hal tersebut yang membuat kebahagiaan yang hakiki semakin menjauh, karena penyakit dunia sudah merusak hatinya. Maka kalau kita ibaratkan juga seperti koki dengan sepiring masakanya, maka tukang becak tersebut lebih memilih sepiring masakanya dari pada kokinya. Itupun kalau porsinya memenuhi kebutuhanya. Maka ia akan mendapatkan sepiring masakan yang harus ia perjuangkan dengan milyarn manusia. Tetapi ketika ia memilih sang koki, maka ia bisa meminta lebih untuk membuatkan masakan lebih lezat dan porsinya dapat memnuhi kebutuhan apa yang kita perlukan. Itulah ilustrasi dari sbuah hakikat kebahagiaan. Ketika ada kumandang Adzan, maka kita harus bersegera untuk memenuhi panggilan tersebut. Padahal arti dari sebuah hakikat adzan merupakan ajakan untuk kesuksesan dunia dan akherat. Allah SWT mengingatkan dalam setiap seruan adzan 5 kali dalam sehari agar manusia tidak salah dalam memilih jalan kebahagiaan.

Oleh karena itu kebahagiaan dunia tidak mengimplementasikan arti dari kebahagiaan yang sesungguhnya. Dia ibarat sebuah fatamorgana di ufuk barat, yang buram dalam sinaran cahaya matahari yang indah. Maka klo kita merujuk dari contoh kasus diatas. Kebahagiaan Tukang becak di akherat harus di jual mahal dengan kesengsaraan di dunia. Sehingga dunia dan akherat ia tidak bisa menggapainya. Akibat batasan-batasan yang Allah SWT ia langgar. Lain halnya dengan pengendara mobil yang lebih mengetahui hakikat sebuah kebahagiaan.

Paradigma Ekonomi Islam

Islam adalah agama yang universal dan komprehensif. Universal berarti bahwa Islam diperuntukkan bagi seluruh ummat manusia di muka bumi dan dapat diterapkan dalam setiap waktu dan tempat sampai akhir zaman. Komprehensif artinya bahwa Islam mempunyai ajaran yang lengkap dan sempurna (syumul). Kesempurnaan ajaran Islam, dikarenakan Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, tidak saja aspek spiritual (ibadah murni), tetapi juga aspek mu’amalah yang meliputi ekonomi, sosial, politik, hukum, dan sebagainya.

Ekonomi islam dibangun atas prinsip etika dan moral untuk mencapai tingkatan Maslahah. Maslahah adalah segala bentuk kebutuhan yang dapat terpenuhi baik material maupun nonmaterial yang dapat meningkatkan kedudukan manusia sebagai makhluk yang mulia atau kata maslahah itu sendiri sering diartikan ”kesejahtraan” dunia dan akherat. Kesejahtraan inilah yang akan menjadi kajian lebih mendalam dalam semua sistem ekonomi termasuk ekonomi islam itu sendiri. Cuma prinsip dan mekanisme untuk memperoleh kesejahtraan itu sendiri yang berbeda. Dalam ekonomi islam kesejahtraan diperoleh jika adanya kepuasan antara kebutuhan material dan nonmaterial untuk menuju kehidupan yang sebenarnya(Akherat). Sedangkan dalam sistem ekonomi konvensional kesejahtraan bisa diartikan jika tercukupi semua kebutuhan material dan hedonisme. Hal inilah yang menyebabkan tersesatnya manusia di dunia, yang menempatkan harta dan kemewahan sebagai prioritas kehidupan.

Setiap analisis ekonomi selalu didasarkan dengan asumsi-asumsi mengenai perilaku para pelaku ekonominya. Secara umum seringkali di asumsikan bahwa dalam pengambil keputusan ekonomi, setiap pelaku selalu berfikir, bertindak dan bersikap secara rasional. Pertimbangan rasionalitas inilah yang sangat dominan di pakai dalam analisis terhadap sebuah keputusan manusia sebagai “homo Economicus”.

Rasionalitas islam secara umum di bangun atas dasar aksioma-aksioma yang diderivasikan dari agama islam, meskipun demikian beberapa aksioma ini merupakan kaidah yang berlaku umum dan universal sesuai dengan universalitas agama islam. Maka dalam buku “Ekonomi Islam” yang ditulis oleh Tim P3EI, Universitas Islam Indonesia. Membagi dalam 5 bentuk

  1. Setiap pelaku ekonomi bertujuan untuk mendapatkan maslahah

  2. setiap pelaku ekonomi selalu berusaha untuk tidak melakukan kemubaziran (Non Wasting)

  3. Setiap pelaku ekonomi selalu berusaha untuk meminimumkan resiko (risk aversion)

  4. Setiap pelaku ekonomi di hadapkan pada situasi ketidak pastian

  5. Setiap pelaku ekonomi berusaha melengkapi informasi dalam upaya miminimumkan resiko.

Itulah garis besar yang harus diperhatikan oleh para pelaku ekonomi agar rasionalitas berekonomi dapat bermanfaat untuk pencapaian mengharapkan Ridha Allah SWT. Untuk mencapai maslahah atau Falah tersebut. Namun dalam praktinya kebahagiaan multidimensi ini sangat sulit untuk diraih karena keterbatasan dan kemampuan manusia dalam memahami dan menerjemahkan keinginannya secara kompherensif, keterbatasan dalam menyeimbangkan antaraspek kehidupan maupun keterbatasan sumberdaya yang bisa digunakan untuk meraih kebahagiaan tersebut. Masalah ekonomi hanyalah merupakan satu bagian dari aspek kehidupan yang diharapkan akan membawa manusia pada tujuan hidupnya. Maka allah SWT membuatkan batasan-batasan syariah agar manusia tidak melampaui batas dalam mencari karunia di bumi Allah.

Begitu indahnya Islam, seluruh permasalahan hidup tidak luput dari pengawasanya. Yang selama ini masyarakat modern menyombongkan diri akan sebuah kekuatan ekonomi kapitalisme. Ternyatanya kapitalisme masih sangat jauh pembahasanya dalam menganalisa permasalahan ekonomi dunia saat ini, maka terjadinya krisis, kesenjangan sosial, konflik horizontal maupun vertikal merupakan sebuah kepastian serta kebobrokan sistem kapitalis. Bahkan yang lebih ekstrem lagi, teori-teori yang di usung oleh kaum klasik,keynes,karl mark, hanya sebuah pembohongan terbesar yang terjadi didunia. Dengan teori-teorinya yang penuh dengan tipu daya duniawi. Maka apa yang diperoleh masyarakat barat sekarang ini hanyalah kebahagiaan semu. Jangankan untuk mendapatkan kebahagiaan akhert, kebahagiaan duniapun ia tidak dapatkan.

Disini semakin jelas selama manusia menjalankan perintahnya Allah SWT serta menjauhi laranganya. bahwasanya harta didunia bukan sebagai pengganjal untuk kehidupan di akherat nanti, tetapi sebagai stimulus menuju kebahagiaan hakiki yaitu surganya Allah SWT. Maka tidak ada kata menyerah untuk mencari Ridha Allah SWT… Semoga kita mendapatkannya..Aminn


About Anas Malik

Ekonomi Syariah solusi untuk Perekonomian dunia

Diskusi

One thought on “Kebahagiaan “Cinta Dunia” dan “punya Dunia” dalam persepektif Ekonomi Islam

  1. bahagia dunia dan akhirat dengan sistem Islam pokoknya mah🙂 subhanallah…..

    Posted by M.Fauzi Rizal | Agustus 24, 2012, 11:34 am

Kritik dan Saran

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pos-pos Terbaru