:)
Selamat Membaca...Semoga Bermanfaat.
Kajian Ekonomi Islam

Peran Kebijakan Fiskal Umar Bin Khattab Dalam Pengentasan Kemiskinan


By: Anas Malik.SE.I

Satu hal yang harus diperhatikan, bahwa Umar bin Khattab memilik keunikan dalam upanya mengentaskan kemiskinan. Sepertinya beliau menginginkan adanya perubahan sistem yang berlaku, yaitu sistem hubungan kekerabatan dengan rasulullah dan siapa yang lebih awal masuk Islam kepada sistem persamaan. Dengan demikan, terjadilah perubahan sistem jatah untuk menyelesaikan maslah ini. Keinginan Umar tidak terbatas dalam pemerataan kesejahtraan, namun beliau juga tidak ingin melewatkan hak tiap orang, meski orang itu hanya diam dirumah saja. Ini diibaratkan dengan orang yang punya hak dan tinggal di gunung Shan’a, maka beliau tetap akan memeberi jatahnya.1

Sungguh Umar telah mengerti tentang tanggung jawabnya terhadap rakyatnya yang miskin dan ia sangat antusias untuk menutupi kebutuhan mereka. Diantaranya yang menjelaskan tersebut, bahwa ketika beliau datang ke Syam, maka dibuatkanlah makanan yang beliau belum pernah melihat yang sepertinya. Ketika makanan itu dibawa kepadanya, beliau berkata. “Ini untuk kami! Lalu apa yang untuk kaum muslimin yang miskin selalu tidak kenyang dari roti gandum?” Khalid bin Walid berkata, “Bagi mereka surga” maka berderailahlah kedua mata Umar, lalu berkata,” jika ini bagian kami, dan bagi mereka surga, maka sesungguhnya mereka meiliki keutamaan yang lebih jauh”.2

Dalam beberapa riwayat, Umar menjelaskan syarat terpenting yang harus terpenuhi bagi orang yang mendaptkan jaminan sosial dari kalangan fakir miskin, yaitu tidak mampu bekerja, atau pemasukanya tidak mencukupi kebutuhanya. Sedangkan riwayat yang menjelaskan pembatasan kecukupan dengan jumlah tertentu itu tidak berati tetapnya jumlah tersebut dalam setiap masa atau kota, namaun penentuan batasan kekayaan yang menghambat keberhakan zakat pada masa Umar.3

Umar bin Khattab berpendapat agar orang miskin diberikan dari zakat sesuai dari kadar yang mencukupinya, bukan sekedar mencukupi kelaparanya dengan beberapa suap makanan atau mengurangi kesulitannya dengan beberapa dirham yang tidak merubah kondisi ekonominya. Akan tetapi beliau melakukan politiknya dalam hal tersebut berdasarkan prinsip yang dinyatakan dengan perkataanya, “Jika kamu memberi makan, maka cukupkanlah,” dab beliau berkata kepada para Amil zakat,” Ulangilah pemberian zakat kepada mereka, meskipun seseorang dari mereka pergi dengan membawa seratus unta.” dan beliau mengatakan,“sungguh aku akan memberikan zakat kepada mereka, mesipun seseorang diantara mereka pergi dengan seratus unta”.4

Dalam Islam, kebijakan fiskal hanyalah salah satu mekanisme untuk menciptakan distribusi ekonomi yang adil. Karenanya kebijakan fiskal tidak akan berfungsi dengan baik bila tidak didukung oleh mekanisme-mekanisme lainnya yang diatur melalui syariat Islam, seperti mekanisme kepemilikan, mekanisme pemanfaatan dan pengembangan kepemilikan, dan mekanisme kebijakan ekonomi negara.

Maka dari itu zakat sebagai instrumen kebijakan fiskal pada masa khalifah Umar bin Khattab sangat berperan besar dalam peningkatan kesejahtraan rakyat. Umar bin Khattab telah memposisikan dana zakat sebagai alokasi penerimaan dan pengeluaran negara pada masa pemerintahanya. Oleh karena itu Umar sangat berhati-hati dalam mengalokasikan dana zakat terhadap fakir-miskin. Jangan sampai ada pegawai yang menyelewengkan atau tidak tepat sasaran.

Selain dana zakat, Umar juga menggunakan seluruh instrument fiskal agar dapat bersinergi dalam pertumbuhan ekonomi. Hal ini bisa dilihat dalam keadilan pendistribusian pengeluaran negara yang telah ditetapkan Al-Qur’an dan As-Sunah beserta Ijtihad Umar sendiri. Tujuan utama pertumbuhan ekonomi Umar adalah kesejahtraan rakyatnya.

Umar selalu meninjau kembali kebijakan dan sirkulasi ekonomi pada masanya. Beliau mengambil berbagai keputusan dan mengumumkan didepan rakyat. Beliau akan melakukan pengawasan (controlling), jika beliau masih hidup tahun mendatang. Berikut ini keputusan yang diambil dalam bentuk pembicaraan atau pidato yang dilontarkan dalam berbagai kesempatan. Beliau berkata,5

Kalau aku menghadapi urusanku , maka aku tidak akan mundur dan aku akan mengambil sisa harta para kaum kaya, kemudian aku bagikan kepada kaum fakir miskin,”

”Demi Allah, kalu aku masih hidup ditahun mendatang, maka aku akan mengantarkan orang-orang dibawah standar untuk aku angkat kederajat orang-orang yang ada dal;am standar. Aku akan menjadikan bagian pemberian seorang muslim 3000 dirham; 1000 untuk tunggangan dan senjatanya, 1000 untuk biaya hidupnya, dan 1000 untuk biaya hidup keluarganya, ”

Aku berharap kalau aku hidup sebentar atau lama agar aku dapat berlaku benar kepada kalian, Insya Allah. Hendaknya tidak tersissa seorangpun darikaum muslimin meskipun ia dirumah kcuali ia akan diberikan bagian, dan bagianya adalah dari harta Allah meski dirinya tida bekerja untuk itu dan hartanya tidak dikenakan beban”

Kalau akau masih hidup. InsyaAllahaku akan berjalan mengunjungi rakyat selama setahun sehingga rakyat dapat menyampaikan keperluanya padaku. Sedangkan dalam masalah usaha, sayangnya mereka tidak meminta pendapatku. Meemang mereka tidak bisa datang kepadaku, sehingga aku yang harus datang kepada mereka.”

 

About these ads

About Anas Malik

Ekonomi Syariah solusi untuk Perekonomian dunia

Diskusi

Belum ada komentar.

Kritik dan Saran

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pos-pos Terakhir

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.